<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PEUREULAK</title>
	<atom:link href="http://www.peureulak.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.peureulak.com</link>
	<description>The last manuscript</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Nov 2009 13:22:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>SYEIKH YUSUF AL-MAKASSARI</title>
		<link>http://www.peureulak.com/syeikh-yusuf-al-makassari.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/syeikh-yusuf-al-makassari.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 13:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[ulama nusantara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1177</guid>
		<description><![CDATA[
Muhammad Yusuf lahir di Gowa Sulawesi Selatan pada 13 Juli 1627. Ayahnya bernama Abdullah, sementara ibunya adalah seorang wanita keluarga Kerajaan Gowa Sultan Ala’uddin yang bernama Aminah. Nama Muhammad Yusuf diberikan oleh Sultan Ala’uddin sendiri.

Kesultanan Gowa adalah salah satu kerajaan Islam yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;"></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Muhammad Yusuf lahir di Gowa Sulawesi Selatan pada 13 Juli 1627. Ayahnya bernama Abdullah, sementara ibunya adalah seorang wanita keluarga Kerajaan Gowa Sultan Ala’uddin yang bernama Aminah. Nama Muhammad Yusuf diberikan oleh Sultan Ala’uddin sendiri.<span><span id="more-1177"></span></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kesultanan Gowa adalah salah satu kerajaan Islam yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Kerajaan ini terletak di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Gowa dan beberapa kabupaten di sekitarnya termasuk Kotamadya Makassar. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Muhammad Yusuf dididik menurut tradisi Islam, diajari bahasa Arab, fikih, tauhid dan ilmu-ilmu keagamaan lainnya sejak dini. Sebagai seorang putera keluarga bangsawan, Muhammad Yusuf berkesempatan mengenyam pendidikan yang sangat bagus dengan belajar kepada ulama-ulama ternama pada zamannya, termasuk berkesempatan menimba ilmu di pusat-pusat pendidikan ternama pada zamannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Karena salah satu pusat pendidikan keagamaan yang bagus berada di Cikoang, sebagai seorang putera keluarga bangsawan maka Muhammad Yusuf pun berkesempatan belajar ke sana. Cikoang pada saat itu merupakan perkampungan para guru-guru agama. Mereka adalah keluarga-keluarga sayyid Arab yang diyakini sebagai keturunan (dzurriyat) Rasulullah Muhammad SAW.  Pada usia 15 tahun Muhammad Yusuf belajar di Cikoang pada seorang sufi, ahli tasawuf, mistik, guru agama, dan dai yang berkelana. Beberapa di antara para guru Muhammad Yusuf yang terkenal adalah Syeikh Jalaludin al-Aidit, Sayyid Ba’lawi At-Thahir dan Daeng Ri Tassamang. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Secara geografis, Cikoang saat ini berada termasuk ke dalam wilayah kecamatan Mangarabombang Kabupaten Talakar yang terletak di bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan dengan jarak 60 km dari Kota Metropolitan Makassar. Hingga saat ini, di Cikoang terkenal dengan ritual Maulid Akbar Cikoang atau biasa disebut Maudu’ Lompoa Cikoang (dalam bahasa Makassar) yang merupakan perayaan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam perayaan ini digelar berbagai atraksi budaya dengan ritual-ritual keagamaan yang digelar setiap tahun di Bulan Rabiul Awal.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
<strong>Berdakwah dan Mengembara</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sekembalinya belajar dari Cikoang Muhammad Yusuf menikah dengan seorang putri Sultan Goa. Pada usia 18 tahun kemudian Muhammad Yusuf memulai pengembaraannya dalam menuntut ilmu. Pada tahun 1644, dengan menumpang kapal Melayu, Muhammad Yusuf segera berlayar untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu-ilmu agama di Timur Tengah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sesuai rute perjalanan kapal Melayu yang singgah di berbagai pelabuhan kerajaan-kerajaan Nusantara waktu itu, Muhammad Yusuf banyak menyinggahi berbagai daerah Nusantara. Salah satu yang kemudian menjadi sangat penting dalam perjalanan hidup dan perjuangan Muhammad Yusuf adalah Banten, sebuah pelabihan dagang yang dikendalikan oleh Kerajaan Islam Banten. Sebagai seorang bangsawan, Muhammad Yusuf bersahabat dengan putra mahkota yang kelak memerintah sebagai Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683), seorang penguasa terakhir Kesultanan Banten. Selain Banten, Muhammad Yusuf juga sempat singgah di Aceh dalam perjalanan pengembarannya ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dari Aceh, Muhamamad Yusuf kemudian berlayar ke Gujarat, Sebuah kawasan yang menjadi salah satu negara bagian India sejak 1 Mei 1960. Gujarat dikenal sebagai tempat yang asal para wali penyebar agama Islam di Nusantara, termasuk beberapa wali songo yang kemudian bermukin di Jawa. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Di Gujarat inilah dikabarkan Muhammad Yusuf sempat bertemu dengan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri, salah seorang penasihat Sultonah Shofiyatuddin, raja perempuan Aceh. Syeikh Nuruddin Ar-Raniri adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17. Nama aslinya adalah Nuruddin bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid Ar-Raniri. Ia lahir di Ranir (Rander), Gujarat, India, dan mengaku memiliki darah suku Quraisy,</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Beberapa pendapat menyatakan bahwa Muhammad Yusuf bertemu dangan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri ketika Muhammad Yusuf singgah di Aceh. Hal ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa Syeikh Nuruddin Ar-Raniri meninggal dunia pada 22 Zulhijjah 1069 H./21 September 1658 M. di Aceh. Pada masa-masa sebelum 1658 M. inilah Muhammad Yusuf bertemu dengan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri di Aceh. Dari Syeikh Nuruddin Ar-Raniri inilah Muhammad Yusuf belajar dan mendapatkan ijazah Tarekat Qodiriyah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dari Aceh, Muhammad Yusuf kemudian bertolak ke Gujarat, Yaman, Damaskus (Suriyah) hingga akhirnya ke Mekkah dan Madinah. Konon, Muhammad Yusuf sempat berkelana hingga ke Istanbul (Turki) yang disebut dalam tambo-tambo Melayu sebagai “Negeri Rum”. Di Yaman, Muhamamd Yusuf berguru pada Syeikh Abdullah Muhammad bin Abd Al-Baqi,</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Di Damaskus Muhammad Yusuf berguru kepada Syeikh Abu Al-Barkah Ayyub<br />
bin Ahmad bin Ayyub Al-Khalwati Al-Quraisyi. Konon gurunya inilah yang memberikan laqob (gelar panggilan) kepada Muhammad Yusuf  dengan “Al-Makassari.”  Syeikh Abu Al-Barkah adalah gurunya yang memberikan ijazah Tarekat Khalwatiyah kepadanya. Kelak, setelah Muhammad Yusuf menjadi seorang ursyid, Ijazah Tarekat Khalwatiyah inilah yang kemudian menjadikannya dikenal sebagai Syeikh Yusuf Tajul Khalwati.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Semenjak berada di Haramain (Makkah-Madinah) Muhamamd Yusuf telah dipandang sebagai guru agama oleh orang-orang Melayu-Indonesia yang datang naik haji ke Tanah Suci. Konon Muhammad Yusuf yang telah menjadi guru dan dipanggil sebagai Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari ini sempat menikah dengan salah seorang putri keturunan Imam Syafi’i di Mekkah yang meninggal dunia waktu melahirkan bayi. Sebelum akhirnya pulang kembali ke Nusantara, Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari sempat menikah lagi dengan seorang perempuan asal Sulawesi di Jeddah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
<strong>Berjuang Melawan Penjajahan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dengan Kedua Isterinya, isteri pertama yang menemaninya selama berkelana dan isteri ketiga yang baru dinikahinya sewaktu di Jeddah, Syeikh Yusuf al-Makassari pun kembali ke Nusantara. Beberapa sumber menyebutkan, Syeikh Yusuf al-Makassari tidak pernah kembali ke Gowa, namun langsung menetap di Banten. Sementara beberapa pendapat menyebutkan, setelah Kesultanan Gowa mengalami kekalahan dalam peperangan melawan Belanda, Syeikh Yusuf al-Makassari kembali berlayar ke Banten, ke tempat sahabatnya semasa remaja yang kini telah menjadi seorang raja bergelar Sultan Ageng Tirtayasa. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Di Banten, Sekitar tahun 1670 Syeikh Yusuf al-Makassari diangkat menjadi mufti (penesehat spiritual) dengan murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai. Syeikh Yusuf al-Makassari tinggal kemudian menikah lagi dengan Putri Sultan Ageng Tirtayasa. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kedalaman ilmu yang dimiliki Syeikh Yusuf menjadikan Beliau begitu cepat terkenal dan menjadikan Banten sebagai Pusat pendidikan Islam. Banyak Murid murid yang berdatangan dari berbagai penjuru negeri untuk belajar kepada Syeikh Yusuf al-Makassari. Disamping mengajarkan tentang ilmu-ilmu syariat beliau juga mengajarkan ilmu beladiri untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda. Sehingga banyak di antara para pendekar di kesultanan Banten adalah murid Syeikh Yusuf al-Makassari.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Murid -murid Syeikh yusuf Al makassari terkenal sebagai pendekar pendekar Banten yang kebal terhadap Senjata membuat Pasukan Belanda kalang kabut. Syeikh Yusuf al-Makassari memiliki pengaruhnya yang sangat besar terhadap rakyat Banten untuk melawan Penjajah Belanda. Syeikh Yusuf al-Makassari memiliki peran sangat penting dalam penyerbuan Banten ke Batavia. Ketika Belanda berhasil memecah belah serta mengadu domba terhadap keluarga Sultan, maka Banten terpaksa direpotkan oleh pemberontakan dari dalam keluarga kerajaan sendiri. Sultan Ageng Tirtayasa pun terpaksa berperang melawan puteranya sendiri yang bernama Sultan Haji dengan dukungan militer Belanda. Syeikh Yusuf al-Makassari beserta 4.000 tentara Makassar dan Bugis memihak Sultan Ageng Tirtayasa.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Ketika pasukan Sultan Ageng dikalahkan Belanda tahun 1682, Syeikh Yusuf  al-Makassari pun turut terlibat dalam perang gerilya. Syeikh Yusuf  al-Makassari terus memimpin pasukannya bersama Pangeran Purabaya mengobarkan perang gerilya. Pasukan yang dipimpinnya bergerilya hingga ke Karang dekat Tasikmalaya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Namun pada tahun ini juga Syeikh Yusuf  al-Makassari dapat ditangkap oleh Belanda. Awalnya, Syeikh Yusuf  al-Makassari ditahan di Cirebon kemudian dipindahkan ke Batavia (Jakarta). Karena pengaruhnya yang begitu besar dianggap membahayakan kompeni Belanda. Syeikh Yusuf  al-Makassari dan keluarga kemudian diasingkan ke Sri Lanka.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Pada bulan September 1684, Syeikh Yusuf  al-Makassari bersama dua istrinya, beberapa anak, 12 murid, dan sejumlah perempuan pembantu dibuang ke pulau Ceylon, kini Sri Lanka. Sementara Sultan Ageng Tirtayasa sendiri berhasil ditangkap dan dikurung di Batavia hingga meninggal sebagai tawanan Belanda pada tahun 1692 M.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Karena telah berada dalam pengasingan Belanda, maka sejak di Sri Lanka inilah secara praktis, Syeikh Yusuf  al-Makassari tidak lagi dapat menjalani dan memimpin perjuangan fisik. Maka Syeikh Yusuf  al-Makassari pun mulai mencurahkan seluruh hidupnya untuk diabdikan dalam penyebaran dan pengembangan agama Islam. Syeikh Yusuf  al-Makassari kemudian menulis karya-karya keagamaan dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Di pengasingannya di Sri Lanka, Syeikh Yusuf  al-Makassari bertemu dengan ulama Sri langka bernama Syeikh Ibrahim bin Mi’an dan sering mengadakan diskusi kegamaan dan majlis ta’lim. Pembahasan tentang konsep Tasawuf yang diajarkan oleh Syeikh Yusuf  al-Makassari sangat menarik minta para ulama serta jama’ah setempat dan mereka meminta kepada Syeikh Yusuf  al-Makassari untuk membuat sebuah kitab tentang tasawuf. Syeikh Yusuf  al-Makassari  akhirnya mengarang Kitab tentang konsep tawasuf yang berjudul “Kaifiyatut Tasawwuf.”</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dari pengasingannya, Syeikh Yusuf  al-Makassari aktif menyusun sebuah jaringan Islam yang luas di kalangan para haji yang singgah di Sri Lanka, di kalangan para penguasa, dan raja-raja di Nusantara. Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syeikh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara. Para kafilah haji inilah yang membawa karya-karya Syeikh Yusuf  al-Makassari ke Nusantara sehingga dapat dibaca di Indonesia sampai sekarang. Di Sri Lanka, Syeikh Yusuf  al-Makassari tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
<strong>Dakwah Tiada Henti</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Mengingat aktivitas dakwah Syeikh Yusuf al-Makassari yang terus meningkat dan dinilai membahayakan stabilitas politik penjajahan Belanda, maka VOC lalu mengambil keputusan memindahkan Syeikh Yusuf al-Makassari ke Kaapstad di Afrika Selatan. Belanda khawatir dampak dakwah agama Syeikh Yusuf al-Makassari akan berpengaruh buruk bagi dan politik Belanda di Nusantara. Murid-murid Syeikh Yusuf al-Makassari terus mengobarkan perlawanan-perlawan an yang mengancam kekuasaan Belanda di Nusantara.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dalam usia 68 tahun, Syeikh Yusuf al-Makassari beserta rombongan pengikutnya terdiri dari 49 orang tiba di Tanjung Harapan tanggal 2 April 1694 dengan menumpang kapal Voetboog. Syeikh Yusuf al-Makassari di tempatkan di Zandvliet, desa pertanian di muara Eerste Rivier, dengan tujuan supaya tidak bisa berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang telah datang lebih dahulu. Syeikh Yusuf al-Makassari membangun pemukiman di Cape Town yang sekarang dikenal sebagai Macassar. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Bersama ke-12 pengikutnya yang dinamakan imam-imam, Syeikh Yusuf al-Makassari memusatkan kegiatan pada menyebarkan agama Islam di kalangan budak belian dan orang buangan politik, termasuk di kalangan orang-orang Afrika kulit hitam yang telah dibebaskan dan disebut Vryezwarten.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Syeikh Yusuf al-Makassari terus berjuang menyebarkan syiar Islam, memelihara dan mempertahankan agama Islam di Afrika Selatan. Syeikh Yusuf al-Makassari kemudian hidup sebagai sufi yang mengajarkan tarekat Qadiriyyah, Shattariyyah, dan Rifaiyyah di kalangan Muslim Afrika Selatan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
<strong>Karomah dan Kewalian</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sebagai seorang mursyid tarekat, Syeikh Yusuf al-Makassari dikisahkan memiliki berbagai karomah dan kewalian. Salah satu yang sangat terkenal adalah mengislamkan kapten kapal yang membawanya ke pengasingan terakhir menuju Afrika Selatan. Menurut cerita, dalam pelayaran yang membawanya menuju Kapstaad, atas kapal Voetboog yang ditumpanginya beserta rombongan dihantam oleh badai besar yang membuat nakhoda berkebangsaan Belanda, Van Beuren, ketakutan karena mengira kapalnya akan tenggelam. Namun berkat wibawa dan karisma Syeikh Yusuf al-Makassari kapten beserta nahkoda kapal dapat tetap tenang dan mengendalikan kapal dengan selamat sampai di Kaapstad. Akibat pengalaman tersebut, sang kapten memeluk agama Islam dan turut tinggal di pengasingan bersama Syeikh Yusuf al-Makassari. Sampai sekarang keturunan kapten kapal ini tetap memeluk Islam Muslim masih bermukim di Afrika Selatan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Di Afrika Selatan, Syeikh Yusuf al-Makassari tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699 M. para pengikut Syeikh Yusuf al-Makassari menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Syeikh Yusuf al-Makassari dimakamkan di Faure, Cape Town. Makamnya terkenal sebagai Karamah yang berarti keajaiban  atau mukjizat. Bahkan, Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan, menyebut Syeikh Yusuf al-Makassari yang juga salah seorang pahlawan nasional Indonesia ini sebagai &#8216;Salah Seorang Putra Afrika Terbaik&#8217;.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sultan Gowa meminta kepada VOC supaya jenazah Syeikh Yusuf al-Makassari dibawa kembali ke Tanah Airnya. Permintaan ini dikabulkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, sehingga jasad Syeikh Yusuf al-Makassari pun diboyong kembali ke Nusantara. Jasad Syeikh Yusuf al-Makassari tiba di Goa pada tanggal 5 April 1705 dan dimakamkan kembali di Lakiung (sebuah wilayah di kerajaan Gowa) pada hari Selasa tanggal 6 April 1705 M./12 Zulhidjah 1116 H. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Seperti makamnya di Faure, makamnya di Lakiung juga banyak diziarahi masyarakat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><span style="font-size: 10pt;">Disadur kembali oleh </span>Syaifullah Amin</span></p>
<p></span></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.peureulak.com/syeikh-yusuf-al-makassari.html" title="foto pahlawan gowa">foto pahlawan gowa</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.704 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/syeikh-yusuf-al-makassari.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KH. Muhammad Khalil</title>
		<link>http://www.peureulak.com/muhammad-khalil.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/muhammad-khalil.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 13:08:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi]]></category>
		<category><![CDATA[ulama nusantara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1174</guid>
		<description><![CDATA[
Hari Selasa, 11 Jumada Al-Tsaniyah 1235 H atau 1820 M. ‘Abd Al-Latif, seorang kiai di Kampung Senenan, desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Ujung Barat Pulau Madura; merasakan kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya lahir seorang anak laki-laki yang sehat, yang diberinya nama Muhammad Khalil.
 
Kiai ‘Abd. Al-Latif sangat berharap agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;"></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Hari Selasa, 11 Jumada Al-Tsaniyah 1235 H atau 1820 M. ‘Abd Al-Latif, seorang kiai di Kampung Senenan, desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Ujung Barat Pulau Madura; merasakan kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya lahir seorang anak laki-laki yang sehat, yang diberinya nama Muhammad Khalil.<span><span id="more-1174"></span></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Kiai ‘Abd. Al-Latif sangat berharap agar anaknya di kemudian hari menjadi pemimpin ummat, sebagaimana nenek moyangnya. Seusai meng-adzani telinga kanan dan meng-iqamati telinga kiri sang bayi, Kiai ‘Abdul Latif memohon kepada Allah agar Dia mengabulkan permohonannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
K.H. Khalil berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, K.H. ‘Abd Al-Latif, mempunyai pertalian darah dengan Sunan Gunung Jati. Ayah ‘Abd Al-Latif adalah Kiai Hamim, anak dari Kiai ‘Abd Al-Karim. Yang disebut terakhir ini adalah anak dari Kiai Muharram bin Kiai Asra Al-Karamah bin Kiai ‘Abd Allah b. Sayyid Sulaiman. Sayyid Sulaiman adalah cucu Sunan Gunung Jati. Maka tak salah kalau Kiai ‘Abd Al-Latif mendambakan anaknya kelak bisa mengikuti jejak Sunan Gunung Jati karena memang dia masih terhitung keturunannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Oleh ayahnya, ia dididik dengan sangat ketat. Kholil kecil memang menunjukkan bakat yang istimewa, kehausannya akan ilmu, terutama ilmu Fiqh dan nahwu, sangat luar biasa, bahkan ia sudah hafal dengan baik Nazham Alfiyah Ibnu Malik (seribu bait ilmu Nahwu) sejak usia muda. Untuk memenuhi harapan dan juga kehausannya mengenai ilmu Fiqh dan ilmu yang lainnya, maka orang tua Kholil mengirimnya ke berbagai pesantren untuk menimba ilmu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
<strong>Belajar ke Pesantren</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Mengawali pengembaraannya, sekitar tahun 1850–an, Kholil muda berguru pada Kiai Muhammad Nur di Pesantren Langitan Tuban. Dari Langitan, Kholil nyantri di Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Dari sini Kholil pindah lagi ke Pesantren Keboncandi, Pasuruan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Selama di Keboncandi, Kholil juga belajar kepada Kiai Nur Hasan yang masih terhitung keluarganya di Sidogiri. Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri sekitar 7 Kilometer. Tetapi, untuk mendapatkan ilmu, Khalil rela melakoni perjalanan yang terbilang lumayan jauh itu setiap harinya. Di setiap perjalanannya dari Keboncandi ke Sidogiri, ia tak pernah lupa membaca Surah Yasin; dan ini dilakukannya hingga ia  -dalam perjalanannya itu- khatam berkali-kali.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sebenarnya, bisa saja Kholil tinggal di Sidogiri selama nyantri kepada Kiai Nur Hasan, tetapi ada alasan yang cukup kuat bagi dia untuk tetap tinggal di Keboncandi, meskipun Kholil sebenarnya berasal dari keluarga yang dari segi perekonomiannya cukup berada. Ini bisa ditelisik dari hasil yang diperoleh ayahnya dalam bertani. Karena, Kiai ‘Abd Al-Latif, selain mengajar ngaji, ia juga dikenal sebagai petani dengan tanah yang cukup luas, dan dari hasil pertaniannya itu (padi, palawija, hasil kebun, durian, rambutan dan lain-lain), Kiai ‘Abd Al-Latif cukup mampu membiayai Kholil selama nyantri. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Akan tetapi, Khalil tetap saja menjadi orang yang mandiri dan tidak mau merepotkan orangtuanya. Karena itu, selama nyantri di Sidogiri, Khalil tinggal di Keboncandi agar bisa nyambi menjadi buruh batik. Dari hasil menjadi buruh batik inulah Khalil memenuhi kebutuhannya sehari-hari.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kemandirian Khalil juga nampak ketika ia berkeinginan  untuk menimba ilmu ke Mekkah. Karena pada masa itu, belajar ke Mekkah merupakan cita-cita semua santri. Dan untuk mewujudkan impiannya kali ini, lagi-lagi Khalil tidak menyatakan niatnya kepada orangtuanya, apalagi meminta ongkos kepada kedua orangtuanya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kemudian, setelah Khalil memutar otak untuk mencari jalan ke luarnya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sebuah pesantren di Banyuwangi. Karena, pengasuh pesantren itu terkenal mempunyai kebun kelapa yang cukup luas. Dan selama nyantri di Banyuwangi ini, Khalil nyambi menjadi “buruh” pemetik kelapa pada gurunya. Untuk setiap pohonnya, dia mendapat upah 2,5 sen. Uang yang diperolehnya tersebut dia tabung. Sedangkan untuk makan, Khalil menyiasatinya dengan mengisi bak mandi, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, serta menjadi juru masak teman-temannya,  dari situlah Khalil bisa makan gratis.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Akhirnya, pada tahun 1859 M., saat usianya mencapai 24 tahun, Khalil memutuskan untuk pergi ke Mekkah. Tetapi sebelum berangkat, Khalil menikah dahulu dengan Nyai Asyik, anak perempuan Lodra Putih. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Setelah menikah, berangkatlah dia ke Mekkah. Dan memang benar, untuk ongkos pelayarannya bisa tertutupi dari hasil tabungannya selama nyantri di Banyuwangi, sedangkan untuk makan selama pelayaran, konon, Khalil berpuasa. Hal tersebut dilakukan Khalil bukan dalam rangka menghemat uang, akan tetapi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, agar perjalanannya selamat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sebagai pemuda Jawa (sebutan yang digunakan orang Arab waktu itu untuk menyebut orang Indonesia) pada umumnya, Khalil belajar pada para syekh dari berbagai mazhab yang mengajar di Masjid Al-Haram. Namun kecenderungannya untuk mengikuti Madzhab Syafi’i tak dapat di sembunyikan. Karena itu, tak heran kalau kemudian dia lebih banyak mengaji kepada para Syekh yang bermazhab Syafi’i.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kebiasaan hidup prihatinnya pun, diteruskan ketika di Tanah Arab. Konon, selama di Mekkah, Kholil lebih banyak makan kulit buah semangka ketimbang makanan lain yang lebih layak. Realitas ini –bagi teman-temannya, cukup mengherankan. Teman seangkatan Khalil antara lain: Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, dan Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani. Mereka semua tak habis pikir dengan kebiasaan dan sikap keprihatinan temannya itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Padahal, sepengetahuan teman-temannya, Kholil tak pernah memperoleh kiriman dari Tanah Air, tetapi Kholil dikenal pandai dalam mencari uang. Ia, misalnya, dikenal banyak menulis risalah, terutama tentang ibadah, yang kemudian dijual. Selain itu, Kholil juga memanfaatkan kepiawaiannya menulis khat (kaligrafi). Meskipun bisa mencari uang, Kholil lebih senang membiasakan diri hidup prihatin. Kebiasaan memakan kulit buah semangka kemungkinan besar dipengaruhi ajaran ngrowot (vegetarian) dari Al-Ghazali, salah seorang ulama yang dikagumi dan menjadi panutannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sepulangnya dari Tanah Arab (tak ada catatan resmi mengenai tahun kepulangannya) , Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqih dan Tarekat. Bahkan pada akhirnya, dia-pun dikenal sebagai salah seorang Kiai yang dapat memadukan ke dua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Hingga akhirnya, Khalil dapat mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, sekitar 1 Kilometer Barat Laut dari desa kelahirannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dari hari ke hari, banyak santri yang berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha; pesantren di Desa Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya. Kiai Khalil sendiri mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota; sekitar 200 meter sebelah Barat alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak Pesantren yang baru itu, hanya selang 1 Kilometer dari  Pesantren lama dan desa kelahirannya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Di tempat yang baru ini, Kiai Khalil juga cepat memperoleh santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Tanah Seberang Pulau Jawa. Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy’ari, dari Jombang. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Di sisi lain, Kiai Khalil di samping dikenal sebagai ahli Fiqh dan ilmu Alat (nahwu dan sharaf ), ia juga dikenal sebagai orang yang “waskita,” weruh sak durunge winarah  (tahu sebelum terjadi). Malahan dalam hal yang terakhir ini, nama Kiai Khalil lebih dikenal. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
<strong>Geo Sosiologi Politik</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Pada masa hidup Kiai Khalil, terjadi sebuah penyebaran Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah di daerah Madura. Kiai Khalil sendiri dikenal luas sebagai ahli Tarekat; meski pun tidak ada sumber yang menyebutkan kepada siapa Kiai Khalil belajar Tarekat. Tapi, menurut sumber dari Martin Van Bruinessen (1992), diyakini terdapat sebuah silsilah bahwa Kiai Khalil belajar kepada Kiai ‘Abd Al-Azim dari Bangkalan (salah satu ahli Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah), tetapi, Martin masih ragu, apakah Kiai Khalil penganut Tarekat tersebut atau tidak?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Masa hidup Kiai Khalil, tidak luput dari gejolak perlawanan terhadap penjajah. Tetapi, dengan caranya sendiri Kiai Khalil melakukan perlawanan; pertama, ia melakukannya dalam bidang pendidikan. Dalam bidang ini, Kiai Khalil mempersiapkan murid-muridnya untuk menjadi pemimpin yang berilmu, berwawasan, tangguh dan mempunyai integritas, baik kepada agama maupun bangsa. Ini dibuktikan dengan banyaknya pemimpin umat dan bangsa yang lahir dari tangannya; salah satu di antaranya: Kiai Hasyim Asy’ari, Pendiri Pesantren Tebuireng.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Cara yang kedua, Kiai Khalil tidak melakukan perlawanan secara terbuka, melainkan ia lebih banyak berada di balik layar. Realitas ini tergambar, bahwa ia tak segan-segan untuk memberi suwuk (mengisi kekuatan batin, tenaga dalam) kepada pejuang, pun Kiai Khalil tidak keberatan pesantrennya dijadikan tempat persembunyian. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Ketika pihak penjajah mengetahuinya, Kiai Khalil ditangkap dengan harapan para pejuang menyerahkan diri. Tetapi, ditangkapnya Kiai Khalil, malah membuat pusing pihak Belanda; karena ada kejadian-kejadian yang tidak bisa mereka mengerti; seperti tidak bisa dikuncinya pintu penjara, sehingga mereka harus berjaga penuh supaya para tahanan tidak melarikan diri. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Di hari-hari selanjutnya, ribuan orang datang ingin menjenguk dan memberi makanan kepada Kiai Khalil, bahkan banyak yang meminta ikut ditahan bersamanya. Kejadian tersebut menjadikan pihak Belanda dan sekutunya merelakan Kiai Khalil untuk di bebaskan saja. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
<strong>Kiprahnya Dalam Pembentukan NU</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Peran Kiai Khalil dalam melahirkan NU, pada dasarnya tidak dapat diragukan lagi, hal ini didukung dari suksesnya salah satu dari muridnya, K.H. Hasyim Asy’ari, menjadi tokoh dan panutan masyarakat NU. Namun demikian, satu yang perlu digarisbawahi bahwa Kiai Khalil bukanlah tokoh sentral dari NU, karena tokoh tersebut tetap pada K.H. Hasyim sendiri. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Mengulas kembali ringkasan sejarah mengenai pembentukan NU, ini berawal pada tahun 1924, saat di Surabaya terdapat sebuah kelompok diskusi yang bernama Tashwirul Afkar (potret pemikiran), yang didirikan oleh salah seorang kiai muda yang cukup ternama pada waktu itu: Kiai Wahab Hasbullah. Kelompok ini lahir dari kepedulian para ulama terhadap gejolak dan tantangan yang di hadapi umat Islam kala itu, baik mengenai praktik-praktik keagamaan maupun dalm bidang pendidikan dan politik. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Pada perkembangannya kemudian, peserta kelompok diskusi ingin mendirikan Jam’iyah (organisasi) yang ruang lingkupnya lebih besar daripada hanya sebuah kelompok diskusi. Maka, dalam berbagai kesempatan, Kiai Wahab selalu menyosialisasikan ide untuk mendirikan Jam’iyah itu. Dan hal ini tampaknya tidak ada persoalan, sehingga diterima dengan cukup baik ke semua lapisan. Tak terkecuali dari Kiai Hasyim Asy’ari; Kiai yang paling berpengaruh pada saat itu. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Namun, Kiai Hasyim, awalnya, tidak serta-merta menerima dan merestui ide tersebut. Terbilang hari dan bulan, Kiai Hasyim melakukan shalat istikharah untuk memohon petunjuk Allah, namun petunjuk itu tak kunjung datang. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sementara itu, Kiai Khalil, guru Kiai Hasyim, yang juga guru Kiai Wahab, diam-diam mengamati kondisi itu, dan ternyata ia langsung tanggap, dan meminta seorang santri yang masih terbilang cucunya sendiri, dipanggil untuk menghadap kepadanya. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
“Saat ini, Kiai Hasyim sedang resah, antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya.” Kata Kiai Khalil sambil menyerahkan sebuah tongkat. Baik, Kiai.” Jawab Kiai As’ad sambil menerima tongkat itu.<br />
“Bacakanlah kepada Kiai Hasyim ayat-ayat ini: Wama tilka biyaminika ya musa, Qala hiya ‘ashaya atawakka’u ‘alaiha  wa abusyyu biha ‘ala ghanami waliya fiha ma’aribu ukhra. Qala alqiha ya musa. Faalqaha faidza hiya hayyatun tas’a. Qala Khudzha wa la takhof  sanu’iduha sirathal ula wadhumm yadaka ila janahika takhruj baidha’a min ghiri su’in ayatan ukhra linuriyaka min ayatil kubra.” Pesan Kiai Khalil.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
As’ad segera pergi ke Tebuireng, ke kediaman Kiai Hasyim, dan di situlah berdiri pesantren yang diasuh oleh Kiai Hasyim. Mendengar ada utusan Kiai Khalil datang, Kiai Hasyim menduga pasti ada sesuatu, dan ternyata dugaan tersebut benar adanya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
“Kiai, saya diutus Kiai Khalil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini kepada Kiai.” Kata As’ad, pemuda berusia sekitar 27 tahun itu, sambil mengeluarkan sebuah tongkat, dan Kiai Hasyim langsung menerimanya dengan penuh perasaan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
“Ada lagi yang harus kau sampaikan?” Tanya Kiai Hasyim.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
“Ada Kiai,” jawab As’ad. Kemudian ia menyampaikan ayat yang disampaikan Kiai Khalil.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Mendengar ayat yang dibacakan As’ad, hati Kiai Hasyim tergetar. Matanya menerawang, terbayang wajah Kiai Khalil yang tua dan bijak. Kiai Hasyim menangkap isyarat, bahwa gurunya tidak keberatan kalau ia dan teman-temannya mendirikan Jam’iyah. Sejak saat itu, keinginan untuk mendirikan Jam’iyah semakin dimatangkan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, setahun telah berlalu, namun Jam’iyah yang diidamkan itu tak kunjung lahir. Sampai pada suatu hari, pemuda As’ad muncul lagi.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
“Kiai, saya diutus oleh Kiai Khalil untuk menyampaikan tasbih ini,” kata As’ad.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
“Kiai juga diminta untuk mengamalkan Ya Jabbar, Ya Qahhar (lafadz asma’ul husna) setiap waktu,” tambah As’ad.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Sekali lagi, pesan gurunya diterima dengan penuh perasaan. Kini hatinya semakin mantap untuk mendirikan Jam’iyah. Namun, sampai tak lama setelah itu, Kiai Khalil meninggal, dan keinginan untuk mendirikan Jam’iyah belum juga bisa terwujud. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Baru setahun kemudian, tepatnya 16 Rajab 1344 H., “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Dan di kemudian hari, jabang bayi itu pun menjadi “raksasa”.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tapi, bagaimana Kiai Hasyim menangkap isyarat adanya restu dari Kiai Khalil untuk mendirikan NU dari sepotong tongkat dan tasbih? Tidak lain dan tak bukan karena tongkat dan tasbih itu diterimanya dari Kiai Khalil, seorang Kiai alim yang diyakini sebagai salah satu Wali Allah.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Tarekat dan Fiqh</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kiai Kholil adalah salah satu Kiai yang belajar lebih daripada satu Madzhab saja. Akan tetapi, di antara Madzhab-mazdhab yang ada, ia lebih mendalami Madzhab Syafi’i di dalam Ilmu Fiqh.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Pada masa kehidupan Kiai Kholil, yaitu akhir abad-19 dan awal abad-20, di daerah Jawa, khususnya Madura, sedang terjadi perdebatan antara dua golongan pada saat itu. Pada awal abad-20, seperti telah diungkapkan sebelumnya, di daerah Jawa sedang terjadi penyebaran ajaran Tarekat Naqsyabandiyah, Qadiriyah wa-Naqsyabandiyah, Naqsyabandiyah Muzhariyah dan lain-lain. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Akan tetapi, tidaklah dapat dipungkiri mengenai keterlibatan Kiai Khalil dalam tarekat, terbukti bahwa Kiai Khalil dikenal pertamakali dikarenakan kelebihannya dalam hal tarekat, dab juga memberikan dan mengisi ilmu-ilmu kanuragan kepada para pejuang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Di sisi lain, Kiai Khalil pun diakui sebagai salah satu Kiai yang dapat menggabungkan tarekat dan Fiqh, yang kebanyakan ulama pada saat itu melihat dua hal tersebut bertentangan seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, salah satu ulama yang notabene seangkatan dengan Kiai Khalil. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Memang, Kiai Khalil hidup pada masa penyebaran tarekat begitu gencar-gencarnya, sehingga kebanyakan ulama pada saat itu, mempunyai dan memilki ilmu-ilmu kanuragan, dan tidak terkecuali Kiai Khalil. Namun demikian, perbedaan antara Kiai Khalil dengan kebanyakan Kiai yang lainnya; bahwa Kiai Khalil tidak sampai mengharamkan atau pun menyebutnya sebagai perlakuan syirik dan bid’ah bagi penganut tarekat. Kiai Khalil justru meletakkan dan menggabungkan antara ke duanya (tarekat dan Fiqh). </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dalam penggabungan dua hal ini, Kiai Khalil menundukkan tarekat di bawah Fiqh, sehingga ajaran-ajaran tarekat mempunyai batasan-batasan tersendiri yaitu fiqh. Selain itu, ajaran tarekat juga tidak menjadi ajaran yang tanpa ada batasannya. Namun, yang cukup disayangkan adalah, tidak banyaknya referensi yang menjelaskan tentang cara atau pun pola-pola dalam penggabungan tarekat dan fiqh oleh Kiai Khalil tersebut.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
<strong>Peninggalan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Dalam bidang karya, memang hampir tidak ada literatur yang menyebutkan tentang karya Kiai Khalil; akan tetapi Kiai Khalil meninggalkan banyak sejarah dan sesuatu yang tidak tertulis dalam literatur yang baku. Ada pun peninggalan Kiai Khalil diantaranya: </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Pertama, Kiai Khalil turut melakukan pengembangan pendidikan pesantren sebagai pendidikan alternatif bagi masyarakat Indonesia. Pada saat penjajahan Belanda, hanya sedikit orang yang dibolehkan belajar, itu pun hanya dari golongan priyayi saja; di luar itu, tidaklah dapat belajar di sekolah. Dari sanalah pendidikan pesantren menjadi jamur di daerah Jawa, dan terhitung sangat banyak santri Kiai Khalil yang setelah lulus, mendirikan pesantren. Seperti Kiai Hasyim (Pendiri  Pesantren Tebuireng), Kiai Wahab Hasbullah (Pendiri Pesantren Tambakberas) , Kiai Ali Ma’shum (Pendiri Pesantren Lasem Rembang), dan Kiai Bisri Musthafa (Pendiri Pesantren Rembang). Dari murid-murid Kiai Khalil, banyak murid-murid yang dikemudian hari mendirikan pesantren, dan begitu seterusnya sehingga pendidikan pesantren menjadi jamur di Indonesia.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Kedua, selain Pesantren yang Kiai Khalil tinggal di Madura –khususnya, ia juga meninggalkan kader-kader Bangsa dan Islam yang berhasil ia didik, sehingga akhirnya menjadi pemimpin-pemimpin umat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
K.H. Muhammad Khalil, adalah satu fenomena tersendiri. Dia adalah salah seorang tokoh pengembang pesantren di Nusantara. Sebagian besar pengasuh pesantren, memiliki sanad (sambungan) dengan para murid Kiai Khalil, yang tentu saja memiliki kesinambungan dengan Kiai Khalil. Beliau wafat pada 1825 (29 Ramadhan 1343 H) dalam usia yang sangat lanjut, 108 tahun.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Dari berbagai sumber</span></p>
<p></span></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.peureulak.com/muhammad-khalil.html" title="silsilah syeikh yusuf">silsilah syeikh yusuf</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.497 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/muhammad-khalil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUI Jatim Haramkan Paham Santriloka</title>
		<link>http://www.peureulak.com/jatim-haramkan-paham-santriloka.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/jatim-haramkan-paham-santriloka.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 13:05:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1171</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya (ANTARA News) &#8211; Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur mengharamkan paham Kalam Santriloka yang berkembang di Kota Mojokerto karena dianggap menyimpang dari 10 pedoman pokok.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Jatim, Rachman Aziz, di Surabaya, Jumat, mengatakan, saat ini pihaknya sedang menunggu hasil pemeriksaan dari MUI Kota Mojokerto. 
&#8220;Dari informasi yang kami dapatkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Surabaya (ANTARA News) &#8211; Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur mengharamkan paham Kalam Santriloka yang berkembang di Kota Mojokerto karena dianggap menyimpang dari 10 pedoman pokok.</p>
<p>Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi MUI Jatim, Rachman Aziz, di Surabaya, Jumat, mengatakan, saat ini pihaknya sedang menunggu hasil pemeriksaan dari MUI Kota Mojokerto. <span id="more-1171"></span></p>
<p>&#8220;Dari informasi yang kami dapatkan, ajaran tersebut menyimpang dari 10 pedoman pokok yang disepakati MUI seluruh Indonesia,&#8221; katanya.</p>
<p>Dalam 10 pedoman pokok yang menjadi acuan MUI itu menyebutkan, ajaran Islam dinyatakan sesat, bila tidak percaya pada salah satu Rukun Iman dan Rukun Islam, tidak percaya pada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terahir, mempercayai adanya kitab terakhir selain Alquran, dan menghina nabi.</p>
<p>&#8220;Paham Santriloka jelas sesat karena tidak mempercayai Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang terakhir,&#8221; katanya.</p>
<p>Selain itu, Santriloka juga meyakini adanya nabi terkhir setelah Nabi Muhammad SAW, yakni Syekh Siti Jenar dan Syekh Maulana Malik Ibrahim.</p>
<p>Selain itu, syarat masuk Islam tidak harus dengan bersyahadat, namun cukup dengan menggunakan bunga tertentu.</p>
<p>Dalam aliran itu juga tidak mewajibkan jemaahnya untuk berpuasa pada bulan kesembilan pada penanggalan tahun Hijriah, namun dapat diganti pada tanggal 1-9 bulan pertama Hirjiah.</p>
<p>Paham itu juga tidak mewajibkan shalat lima waktu karena cukup diganti dengan kontak batin.</p>
<p>Perguruan Ilmu Kalam Santriloka memiliki sekitar 700 pengikut, dan aktif menggelar pengajian setiap malam Jumat Legi. Kegiatan itu dilakukan berpindah-pindah.</p>
<p>Oleh sebab itu, MUI Jatim meminta kepada pejabat daerah setempat untuk menindak aliran tersebut, sedangkan para tokohnya diminta bertobat dan kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya.</p>
<p>&#8220;Aliran itu dapat dituntut dengan dasar hukum penistaan agama, sehingga dapat dipenjarakan apabila tidak mau bertobat,&#8221; kata Racman seraya mengimbau masyarakat untuk bisa menahan diri dan tidak main hakim sendiri.</p>
<p>Sementara itu, Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, menyatakan, aliran yang dikembangkan oleh Ahmad Nafan itu di luar syariat Islam sehingga sangat menyesatkan.</p>
<p>&#8220;Ini sungguh menyesatkan. Tetapi kami mengimbau supaya pengikutnya disadarkan dengan cara-cara yang persuasif. Tidak perlu dengan kekerasan,&#8221; katanya.</p>
<p>Kegiatan-kegiatan ritual atau keagamaan dengan pemahaman yang dangkal dan jauh dari ajaran Islam, lanjut dia, sebenarnya sangat merugikan umat.(*)</p>
<p><em>Sumber : http://www.antaranews.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/jatim-haramkan-paham-santriloka.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemuda yang dicintai Allah</title>
		<link>http://www.peureulak.com/pemuda-yang-dicintai-allah.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/pemuda-yang-dicintai-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 13:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1168</guid>
		<description><![CDATA[Berkata Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi saw telah bersabda: &#8220;Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan- Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkata Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi saw telah bersabda: &#8220;Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan- Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah,<span id="more-1168"></span> yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: &#8220;Sungguh aku takut kepada Allah&#8221;, seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata&#8221;. (H.R.Bukhary – Muslim)<br />
Hadits ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan safaat dari Alloh SWT, yaitu:<br />
Pemimpin yang adil<br />
Pemimpin disini bisa presiden, pak camat, pak lurah atau kepala rumah tangga sampai imam di masjid atau musholla. Untuk imam, yang dimaksud imam yang adil adalah tidak membeda-bedakan saat ia sholat sendiri maupun sedang mengimami jamaahnya. Tidak saat ia sendiri ia sholat membaca surah yang pendek, tetapi saat berjamaah ia membaca surah yang panjang.<br />
Anak muda yang saleh<br />
Ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan taqarrub (mendekatkan) diri kepada-Nya, menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu mengendalikan nafsu syahwatnya, Allah akan memberikan perlindungan- Nya pada hari kiamat. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang Allah berikan kepada anak-anak muda yang saleh.<br />
Orang yang hatinya terikat pada masjid<br />
Masjid adalah tempat yang paling dicintai Alloh dimuka bumi ini, jadi sudah sewajarnya apabila manusia-manusia yang hatinya selalu terikat pada tempat yang paling dicintaiNya, akan mendapatkan perlindungan di hari akhir. Tidak ada yang menghalangi dia dan keluarganya kecuali keinginan untuk selalu berjamaah di Masjid/Musholla, adalah salah satu tanda hati sudah terikat kepada Masjid.<br />
Dua orang yang saling mencintai karena Allah<br />
Makna yang didapat adalah kebersamaan dan persahabatan. Kita melakukan sesuatu bersama-sama dengan saudara kita, dan kita melakukannya semata-mata karena mengharap ridha Alloh; Saat saudara kita lupa dan ingkar kepada Alloh, kita mengingatkannya. Itu adalah cermin persahabatan yang dirahmati Alloh<br />
Mampu menghadapi godaan lawan jenis<br />
Dicontohkan saat Nabi Yusuf AS berada dalam istana raja dan mendapat godaan yang luar biasa dari Siti Julaiha, seorang wanita yang sangat rupawan. Nabi Yusuf bermunajat kepada Alloh SWT dan berkata `lebih baik hidup di penjara dari pada di istana&#8217; karena beliau tahu betapa Alloh akan melindunginya di yaumil akhir apabila dapat melawan godaan yang sangat berat itu.<br />
Ihklas dalam beramal<br />
Semua berawal dari niat, bahkan dalam beramal sekalipun. Dalam hadist Arbain, keutamaan berniat sebelum melakukan amalan ditempatkan pada hadist yang paling pertama. Dilambangkan dalam bersedekah, tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya.<br />
Bertahajud dan Berzikir kepada Alloh<br />
Bangun pada tengah malam, berserah diri kepada Alloh, memohon ampun dan mengingat dosa-dosa di masa lalu sampai bercucuran air matanya, termasuk salah satu yang dijamin perlindungannya di hari akhir kelak.</p>
<p>Sudahkah kita termasuk didalam 7 golongan itu?</p>
<p>sumber : kaffah4829.wordpres s.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/pemuda-yang-dicintai-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerusakan Dunia Akibat Perbuatan Tangan Tangan Manusia</title>
		<link>http://www.peureulak.com/kerusakan-dunia-akibat-perbuatan.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/kerusakan-dunia-akibat-perbuatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 12:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1165</guid>
		<description><![CDATA[Disetiap terjadi bencana yang menimbulkan banyak korban, dan berbagai kerusakan selalu kita mengatakan “SABAR YA…. INI KEHENDAK ALLAH TUHAN YANG MAHA ESA”, yang seolah olah semua kejadian selalu Allah lah pangkal penyebabnya, dan seolah olah Allah telah bertindak sewenang wenang dan telah berbuat sekehendak Nya sendiri, sehingga kita berkata demikian, karena memang kita sebagai manusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disetiap terjadi bencana yang menimbulkan banyak korban, dan berbagai kerusakan selalu kita mengatakan <strong>“SABAR YA…. INI KEHENDAK ALLAH TUHAN YANG MAHA ESA”</strong>, yang seolah olah semua kejadian selalu Allah lah pangkal penyebabnya,<span id="more-1165"></span> dan seolah olah Allah telah bertindak sewenang wenang dan telah berbuat sekehendak Nya sendiri, sehingga kita berkata demikian, karena memang kita sebagai manusia ciptaan Allah yang sangat lemah, sudah seharusnya dan sepantasnya berkata demikian, tapi benarkah, kerusakan dan kehancuran yang kita alami, kita hadapi dan kita rasakan, benar benar hanya Allah sumber penyebabnya, mari kita sedikit merenung dengan firman Allah SWT, dalam QS. Ar-Rum (30) ayat 41 yang artinya :</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan &#8211; tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”</em></strong>.</p>
<p>Dari ayat Qur’an surat Ar-Rum tersebut diatas, dijelaskan bahwa kerusakan baik didarat maupun di laut itu, bukan semata mata dari Allah SWT, melainkan akibat ulah tangan manusia sendiri, kerusakan yang dimaksud dalam ayat ini mencakup semua jenis kerusakan yang ada di daratan maupun di lautan, berbagai kerusakan diantaranya semua kerusakan di bidang politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, kerusakan moral dan prilakau, pergaulan, kerusakan alam dan semua cakupan berbagai kata kata <strong>“KERUSAKAN”</strong>, mental, tidak disiplin, tidak jujur, tidak mau menyembah dan meng Esa kan sang Maha Pencipta, sang pemilik langit dan bumi beserta isinya, serta kerusakan kerusakan lainnya, itu disebabkan kerena perbuatan dan kitalah pelakunya, dan kitalah penyebabnya, bukan dari Allah SWT.</p>
<p>Pendek kata, semua pangkal pokok terjadinya berbagai kerusakan, yang mengakibatkan murkanya Allah SWT, sang Pemilik bumi dan langit beserta isinya adalah kita manusia lah penyebabnya, kita sudah tidak mau lagi menyembah Sang Maha Pencipta, justru malah manusia lebih banyak menyembah makhluk yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, kita manusia lebih tunduk dan lebih taat kepada makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, dan bukan taat, takut, patuh dan tunduk kepada Sang Maha Pencipta, yang memiliki bumi, langit beserta isinya.</p>
<p>Dari informasi yang telah Allah SWT informasikan tersebut diatas yang telah diberikan kepada kita, mari kita sadar dan menyadari bahwa berbagai kerusakan dan kehancuran yang kita lihat, kita rasakan dan kita alami, itu semata mata karena kesalahan kita sendiri, bukan Allah hendak menyusahkan, atau menyiksa kita manusia, mari kita sadari juga semua kerusakan yang kita hadapi, kita rasakan dan kita alami saat ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan pangkal penyebabnya, sesuai yang disebutkan dalam firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum tersebut diatas, menurut pengertian dan pembelaan ayat Al-Qur’an, ini karena disebabkan oleh perbuatan tangan tangan manusia itu sendiri.</p>
<p>Jadi jelaslah bahwa kerusakan yang terjadi selama ini, yang kita saksikan yang kita dengar dan yang kita rasakan, bukan dari Sang Maha Kuasa pemilik langit dan bumi, melainkan akibat keburukan, kejahatan, kemaksiatan dan dosa dosa manusia selama ini, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS asy-Syura [42] : 30. yang artinya :</p>
<p><strong><em>“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan mu)”.</em></strong></p>
<p>Ayat ini memastikan bahwa pangkal penyebab terjadinya seluruh kerusakan di muka bumi, baik didarat maupun dilautan adalah akibat pelanggaran dan penyimpangan manusia terhadap ketentuan syariah yang telah ditetapkan sang pemilik alam beserta isinya, yakni Allah SWT, kemudian akibat berbagai pelanggaran dan ketidak disiplinan kita, ketidak jujuran kita, dan pelanggaran pelanggaran lain maka Allah SWT menimpakan kepada kita berbagai hukuman sebagai persekot azab, agar kita sadar dan kita kembali, bertaubat dan agar kita diselamatkan serta diampuni oleh Allah dari berbagai hukuman dan siksaan di akhirat nanti.</p>
<p>Allah SWT, mengingatkan kepada kita dengan berbagai musibah agar kita sadar dan hanya menempatkan Allah SWT sebagai, Pemilik, Pemimpin, dan Maha Raja yang tidak ada bandingan dan tidak sebanding dengan apapun serta kita dianjurkan mengikuti petunjuk dan langkah Rasul Rasul utusan Allah serta menjauhi dan menempatkan setan Laknatulloh sebagai musuh, agar kita diakhirat nanti tidak merasakan azab Nya Allah yang sangat pedih, sebagai mana firman Allah dalam QS. An-Nahl (16) ayat 63. yang artinya<strong><em> “Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih”</em></strong>.</p>
<p>Mari kita taubat yang sebenar benarnya taubat serta kembali pada dua tuntunan dan warisan Nabi Muhammad SAW, yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits, agar dan semoga kita selamat dunia sampai akhirat, Aamiin yarobbal Alamiin.</p>
<p>Terimakasih dan mohon maaf</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Mujiarto Karuk</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.peureulak.com/kerusakan-dunia-akibat-perbuatan.html" title="kerusakan alam akibat ulah manusia">kerusakan alam akibat ulah manusia</a></li><li><a href="http://www.peureulak.com/kerusakan-dunia-akibat-perbuatan.html" title="kejadian kejadian kerusakan di bumi">kejadian kejadian kerusakan di bumi</a></li><li><a href="http://www.peureulak.com/kerusakan-dunia-akibat-perbuatan.html" title="bencana alam akibat perbuatan manusia">bencana alam akibat perbuatan manusia</a></li><li><a href="http://www.peureulak.com/kerusakan-dunia-akibat-perbuatan.html" title="bencana alam akibat ulah manusia">bencana alam akibat ulah manusia</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.162 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/kerusakan-dunia-akibat-perbuatan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Etika Bertetangga</title>
		<link>http://www.peureulak.com/etika-bertetangga.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/etika-bertetangga.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 23:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1162</guid>
		<description><![CDATA[Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan- Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, QS. An-Nisa’ ( 4) : 36.
1.      Menghormati tetangga dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan- Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. <span id="more-1162"></span>Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, </em></strong>QS. An-Nisa’ ( 4) : 36.</p>
<p>1.      Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu : &#8220;&#8230;.Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya&#8221; . Dan di dalam riwayat lain disebutkan: &#8220;hendaklah ia berprilaku baik terhadap tetangganya&#8221; . (Muttafaq&#8217;alaih) .</p>
<p>2.   Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.</p>
<p>3.      Hendaknya Kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di rumah. Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil; dan hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan merahasiakan aib mereka.</p>
<p>4.   Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: &#8220;Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: &#8220;Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatan-nya&#8221; . (Muttafaq&#8217;alaih) .</p>
<p>5.   Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.</p>
<p>6.      Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: &#8220;Wahai Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu&#8221;. (HR. Muslim).</p>
<p>7.      Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita tanyakan apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati mereka jinak dan sayang kepada kita.</p>
<p>8.      Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan / kekeliruan mereka dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.</p>
<p>9.      Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap kita. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: <strong><em>&#8220;Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah&#8230;. Disebutkan di antaranya : “Seseorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau keberangkatannya&#8221;</em></strong>. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).</p>
<p>Nasehat : Syaikh <strong>Abdul Aziz bin Abdullah</strong> bin Baz</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/etika-bertetangga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mati Syahid dan Pemahaman Imporan</title>
		<link>http://www.peureulak.com/mati-syahid-pemahaman-imporan.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/mati-syahid-pemahaman-imporan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 23:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1159</guid>
		<description><![CDATA[Mati Syahid dan Pemahaman Imporan
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri
 
Kesukaan meniru atau ‘mengimpor’ sesuatu dari luar negeri mungkin sudah menjadi bawaan setiap bangsa dari negeri berkembang; bukan khas bangsa kita saja. Pokoknya asal datang dari luar negeri. Seolah-olah semua yang dari luar negeri pasti hebat. Tapi barangkali karena terlalu lama dijajah, bangsa kita rasanya memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Mati Syahid dan Pemahaman Imporan</span></div>
<div style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Oleh: KH. A. Mustofa Bisri</span></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Kesukaan meniru atau ‘mengimpor’ sesuatu dari luar negeri mungkin sudah menjadi bawaan setiap bangsa dari negeri berkembang; bukan khas bangsa kita saja. Pokoknya asal datang dari luar negeri. <span id="more-1159"></span>Seolah-olah semua yang dari luar negeri pasti hebat. Tapi barangkali karena terlalu lama dijajah, bangsa kita rasanya memang keterlaluan bila meniru dari bangsa luar.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Sering hanya asal meniru; taklid buta, tanpa mempertimbangkan lebih jauh, termasuk kepatutannya dengan diri sendiri. Ingat, saat orang kita meniru mode pakaian, misalnya. Tidak peduli tubuh kerempeng atau gendut, pendek atau jangkung; semuanya memakai rok span atau celana cutbrai, meniru bintang atau peragawati luar negeri.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Pada waktu pak Harto dan orde barunya ingin membangun ekonomi, sepertinya juga asal meniru negara maju; tanpa melihat jatidiri bangsa ini sendiri yang pancasilais (Padahal waktu itu ada yang namanya P4). Maka, meski tanpa ‘kapital’, selama lebih 30 tahun negeri kita seperti negeri kapitalis dan akibatnya, bangsa kita pun bahkan sampai sekarang sulit untuk tidak disebut bangsa yang materialistis.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Nah, ketika ada tren baru dari luar negeri yang berkaitan dengan keagamaan pun banyak diantara kita yang taklid buta. Kalau taklid soal mode, madzhabnya Amerika dan Eropa; soal tari dan nyanyi banyak yang berkiblat ke India; maka dalam tren keagamaan ini, agaknya banyak yang bertaklid kepada madzhab Timur Tengah, Iran, atau Afghanistan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Seperti pentaklidan tren baru dari luar negeri yang selalu dimulai dari kota dan baru kemudian menjalar ke desa-desa, demikian pula tren yang berkaitan dengan keagamaan ini. Seperti takjubnya sementara orang kota terhadap tren mode dari luar negeri &#8211;atau takjubnya sementara orang desa terhadap tren mode dari kota&#8211; dan langsung mengikutinya, orang-orang Islam kota atau mereka yang punya persinggungan dengan luar negeri, agaknya juga banyak yang demikian. Mereka melihat dan takjub melihat keberagamaan yang dari luar negeri yang sama sekali lain dengan yang selama ini dianut orang-orang tua mereka disini. Maka, seperti halnya orang-orang yang mengikuti mode baru dari luar negeri, mereka ini pun bangga dengan model keberagamaan baru mereka. Termasuk kecenderungan merendahkan orang yang tidak mengikuti ‘tren baru’ mereka itu.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Karena taklid buta, karena asal meniru tanpa mempertimbangkan lebih jauh, sering kali lucu dan sekaligus memprihatinkan. Ambil contoh misalnya soal jihad. Ada beberapa orang yang hanya melihat perjuangan bangsa Palestina dan Afghanistan, misalnya, yang berjihad &#8211;seperti kita dulu ketika melawan kolonialis Belanda&#8211; dengan segala cara; termasuk mengorbankan nyawa sendiri. Lalu mereka ikutan melawan musuhnya Palestina dan Afghanistan di sini dengan cara yang sama. Mereka lupa bahwa jihad seperti yang dilakukan dan diajarkan Rasulullah SAW ada aturan dan etikanya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Orang Palestina yang melakukan bom bunuh diri untuk melawan kolonialis Israel, bila terbunuh bisa disebut syahid. Dalam hadis riwayat imam Ahmad dari Sa’ied Ibn Zaid, disebutkan bahwa orang yang terbunuh membela haknya atau keluarganya atau agamanya, adalah syahid. Orang yang mati syahid , seperti disebutkan dalam beberapa hadis, berhak mendapatkan enam anugerah: 1. Diampuni dosanya sejak tetes darahnya yang pertama; 2. Bisa melihat tempatnya di sorga; 3. Dihiasi dengan perhiasan iman; 4. Dikawinkan dengan bidadari; 5. Dijauhkan dari siksa kubur; 6. Dan aman dari kengerian Yaumil Faza’il akbar .</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Tapi orang yang melakukan bom bunuh diri di Indonsia yang tidak sedang berperang melawan siapa-siapa dan mayoritas penduduknya beragama Islam, jelas namanya bunuh diri biasa yang dilarang oleh Allah SWT, ditambah tindakan kriminalitas luar biasa: membuat kerusakan. Banyak sekali ayat Al-Quran yang menunjukkan dilarangnya berbuat kerusakan di muka bumi. Dalam perang melawan orang-orang kafir sekali pun, ada batasan-batasannya; misalnya tidak boleh membunuh perempuan dan anak-anak, merusak lingkungan, dsb.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Allah berfirman: “Walaa taqtuluu anfusakum..” (Q. 4. An-Nisaa: 29). “Dan janganlah kamu membunuh dirimu..” Menurut para mufassir, larangan membunuh diri ini termasuk juga membunuh orang lain; karena membunuh orang lain termasuk membunuh diri sendiri, sebab umat merupakan satu kesatuan. Larangan ini sangat jelas sekali. Orang yang membunuh dirinya sendiri dan sekaligus orang-orang lain yang tidak berdosa, jelas sangat jauh untuk dapat disebut syahid? Sungguh keterlaluan mereka yang mencekokkan doktrin yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Apalagi hanya karena taklid buta terhadap tren dari luar negeri . Dan sungguh naïf mereka yang –mengaku umat Muhammad&#8211; dengan mudah terpikat hanya oleh iming-iming bidadari, hingga mengabaikan akal sehat dan tega menghancurkan nilai agung kemanusiaan yang ditegakkan Rasulullah SAW.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><br />
Wallahu a’lam.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;">KH. A. Mustofa Bisri, </span><span style="font-size: 10pt;">Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/mati-syahid-pemahaman-imporan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detik-detik terakhir Rasululloh.SAW, menghadapi sakaratul maut</title>
		<link>http://www.peureulak.com/detik-detik-terakhir-rasululloh-saw.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/detik-detik-terakhir-rasululloh-saw.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 22:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1155</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini sudah sering diposting, akan tetapi bagi kaum muslim dimanapun berada agar tetap bersatu dan tidak terpecah belah serta tidak membuat perpecahan, maka mohon kiranya berkenan juga membaca, mengahayati dan sebagai bahan Renungan bagi kita bersama.
Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung &#8211; burung gurun enggan mengepakkan sayap, dan pagi itu, Rasulullah SAW [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini sudah sering diposting, akan tetapi bagi kaum muslim dimanapun berada agar tetap bersatu dan tidak terpecah belah serta tidak membuat perpecahan, maka mohon kiranya berkenan juga membaca, mengahayati dan sebagai bahan Renungan bagi kita bersama.<span id="more-1155"></span></p>
<p>Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung &#8211; burung gurun enggan mengepakkan sayap, dan pagi itu, Rasulullah SAW dengan suara terbatas memberikan khutbah, <strong><em>“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih Nya, maka taati dan bertakwalah kepada Nya, Ku wariskan dua perkara pada kalian, Al-Qur&#8217;an dan sunnahku, Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku”.</em></strong> Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.</p>
<p>Abu Bakar.ra, menatap mata itu dengan berkaca &#8211; kaca, Umar.ra, adanya naik turun menahan nafas dan tangisnya, Usman.ra, menghela nafas panjang dan Ali.ra, menundukkan kepalanya dalam – dalam, Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba, <strong>“Rasulullah. SAW akan meninggalkan kita semua”</strong>, keluh hati semua sahabat kala itu, manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia, tanda &#8211; tanda itu semakin kuat, tatkala Ali.ra, dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah.SAW, yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar, disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik &#8211; detik berlalu.</p>
<p>Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah.SAW masih tertutup, sedang di dalamnya, Rasulullah.SAW sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya, tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk ?”, tanyanya, tapi Fatimah. tidak mengizinkannya masuk, <strong>“Maafkanlah, ayahku sedang demam”.</strong> kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu, kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, <strong>“Siapakah itu wahai anakku ?” </strong></p>
<p><strong>“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya”,</strong> tutur Fatimah lembut, lalu, Rasulullah.SAW menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan, seolah &#8211; olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang, <strong>“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia, Dialah malaikatul maut”,</strong> kata Rasulullah.SAW, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.</p>
<p>Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah.SAW, menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya, kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.</p>
<p><strong>“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah..?”,</strong> tanya Rasululllah. SAW dengan suara yang amat lemah, <strong>“Pintu &#8211; pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu, semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu”,</strong> kata Jibril, tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah.SAW lega, matanya masih penuh kecemasan, <strong>“Engkau tidak senang mendengar khabar ini ?”,</strong> tanya Jibril lagi. <strong>“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak ?”,</strong> <strong>“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku :</strong> <strong>“Ku haramkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya”.</strong> kata Jibril.</p>
<p>Detik &#8211; detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugasnya, perlahan ruh Rasulullah.SAW ditarik, nampak seluruh tubuh Rasulullah.SAW, bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. <strong>“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini”.</strong> perlahan Rasulullah.SAW mengaduh, Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka, <strong>“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?”</strong> Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu, <strong>“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal”,</strong> kata Jibril, sebentar kemudian terdengar Rasulullah.SAW, memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi, <strong>“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”,</strong> badan Rasulullah.SAW mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi, bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya <strong>“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku”,</strong> <strong><em>“peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.&#8217; </em></strong>di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan, Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan, <strong>”Ummatii, ummatii, ummatiii ?&#8217;, “Umatku, umatku, umatku&#8217;,</strong> dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu, <strong><em>kini, mampukah kita mencintai sepertinya ?</em></strong> <strong><em>Allahumma Sholli &#8216;Ala Muhammad Wa Baarik Wa Salim &#8216;Alaihi.</em></strong> <strong>betapa cintanya Rasulullah.SAW. kepada kita.</strong></p>
<p>Kirimkan kepada sahabat &#8211; sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita, karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka,</p>
<p>QS.Al-Ahzab (33) : 56. yang artinya “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat- Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.</p>
<p>QS. At-Tahrim (66) : 6. yang artinya<strong><em> “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan&#8221; .</em></strong></p>
<p>QS. Al-Munafiqun (63) : 9.yang artinya <strong><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi”.</em></strong></p>
<p>QS.Al-Hasyr (59) : 18.yang artinya<strong><em> “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.</em></strong></p>
<p>Sumber : http://groups. yahoo.com/ group/Taman2Syur ga/</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><ul><li><a href="http://www.peureulak.com/detik-detik-terakhir-rasululloh-saw.html" title="KHUTBAH SYEIKH DR AIDH AL-QARNI">KHUTBAH SYEIKH DR AIDH AL-QARNI</a></li></ul><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.452 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/detik-detik-terakhir-rasululloh-saw.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ego dan Keserakahan Pangkal Kesombongan</title>
		<link>http://www.peureulak.com/keserakahan-pangkal-kesombongan.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/keserakahan-pangkal-kesombongan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 22:49:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1152</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum Wr Wb
Bissmillahirrohmaan irrohiim
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. QS.Al-Isra (17) : 37.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum Wr Wb</p>
<p>Bissmillahirrohmaan irrohiim<br />
<strong><em>“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”.</em></strong> QS.Al-Isra (17) : 37.<span id="more-1152"></span></p>
<p><strong><em>“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. </em></strong>QS. Luqman (31) : 18.</p>
<p>Sombong penyakit yang menghinggapi kita tanpa kita sadari, Allah SWT menciptakan kita sebenarnya terdiri dari dua sisi, yaitu <strong>ego</strong> dan <strong>kesadaran</strong>, akan tetapi perjalanan hidup kita, kita lebih cenderung menggiring diri kita sendiri menuju ego, dan ego inilah yang memperkenalkan kita kepada keserakahan dan kebencian, kedua sipat buruk inilah akar dari timbulnya kesombongan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Abasa (80) ayat 5. yang <strong><em>artinya “Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup”</em></strong>, maksudnya seseorang yang merasa dirinya serba berkecukupan, kita merasa berkecukupan dibidang materi, kita merasa lebih kaya, kita merasa lebih cantik, kita merasa lebih terhormat, dan pada Al-Qur’an Surat Al-Hujurat (49) ayat 17 Allah SWT mengatakan yang artinya <strong><em>“</em></strong><strong><em>Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: &#8220;Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar&#8221;.</em></strong></p>
<p>Dengan ayat ini Allah SWT hendak mengingatkan kepada kita agar kita tidak merasa lebih pintar, lebih pandai dan merasa lebih dominan, merasa lebih berpengalaman, merasa lebih berwenang, merasa lebih berwawasan, dan lain sebagainya dan juga kita menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, lebih ikhlas dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain, dengan demikian kita sudah menggiring diri kita sendiri dalam murkanya Allah sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa (4) ayat 36. yang artinya “ ………<strong><em>Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga &#8211; banggakan diri”. </em></strong></p>
<p>Kita mustinya sadar bahwa ketika kita dilahirkan di dunia ini, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya serta tidak tau apa apa, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Mu’min (40) ayat 67.yang artinya<strong><em> “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa),….”,</em></strong><strong><em> </em></strong>QS. Al-Insaan (76) : 2. yang artnya<strong><em> “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”. </em></strong></p>
<p>Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, cita cita dan lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup ini, kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak dan lebih banyak lagi, sebagai mana yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam QS<strong><em>. </em></strong>Al-Imran (3) ayat 14. yang artinya <strong><em>“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah  kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).</em></strong></p>
<p>Ego kita menggiring diri kita dalam bentuk harga diri dan percayaan diri, akan tetapi begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan, kita sudah berada sangat dekat dengan kesombongan, ketahuilah wahai saudaraku bahwa batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas, semakin tinggi tingkat kesombongan kita, semakin sulit pula kita mendeteksinya, sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan dan ilmu, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih &#8211; benih halus di dalam batin kita.</p>
<p>Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati, untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita dilahirkan dimuka bumi ini, untuk menyembah Allah dan juga agar kita melakukan Amar makruf nahi mungkar QS. At-Taubah (9) ayat 71. yang artinya <strong><em>“Dan orang &#8211; orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.</em></strong></p>
<p>Dan kita juga harus menyadari bahwa apa pun perbuatan yang kita lakukan, akan kembali kepada kita sendiri, juga demi diri kita sendiri, bila kita berbuat baik kepada orang lain hakekatnya sama dengan kita telah berbuat baik pada diri kita sendiri, demikian sebaliknya, dan kebaikan yang telah kita lakukan kepada orang lain, pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta dan kasih sayang, QS. Al-Isra (17) ayat 7. yang artinya <strong><em>“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri…….”.</em></strong></p>
<p>Semoga Allah SWT, memberi kekuatan agar kita selalu berbuat baik,  sekaligus meninggalkan sifat sombong, karena sesungguhnya sombong dan kesombongan hanya milik dan untuk Allah sang maha pencipta dan maha pemilik bumi dan langit serta isinya, dan semoga kita semua diberi kekuatan agar menganjurkan untuk tetap berbuat baik, serta mencegah perbuatan yang mungkar, Aamiin Yarobbal Alamiin.</p>
<p>Semoga bermanfaat khususnya buat saya dan keluarga, dan umumnya pada kita semua, terimakasih, mohon maaf bila kurang berkenan.</p>
<p>Salam</p>
<p>Mujiarto Karuk</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/keserakahan-pangkal-kesombongan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jin dan Manusia, Setan dan Iblis</title>
		<link>http://www.peureulak.com/jin-dan-manusia-setan-dan-iblis.html</link>
		<comments>http://www.peureulak.com/jin-dan-manusia-setan-dan-iblis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 19:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teungku</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islam]]></category>
		<category><![CDATA[artikel islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.peureulak.com/?p=1145</guid>
		<description><![CDATA[Ada pengertian yang kemudian menjadi penting ketika mengkaji kitab Allah, yaitu penyebutan Jin, Manusia, Setan, dan Iblis. Saya kadang bingung, apa bedanya. Oleh karena itu, di bawah ini saya kopi paiskan dari sumber Syariah Online yang ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf di bawah ini, dengan beberapa catatan tambahan dari redaksi As Syariah On line [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada pengertian yang kemudian menjadi penting ketika mengkaji kitab Allah, yaitu penyebutan Jin, Manusia, Setan, dan Iblis. Saya kadang bingung, apa bedanya. <span id="more-1145"></span>Oleh karena itu, di bawah ini saya kopi paiskan dari sumber Syariah Online yang ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf di bawah ini, dengan beberapa catatan tambahan dari redaksi As Syariah On line yang melengkapi.</p>
<p>Sebelum saya lanjutkan membaca (mempelajari), kalau minat, sengaja saya buat dengan judul Jin dan Manusia, Setan dan Iblis. Alasan saya mengambil judul tersebut karena :</p>
<p>1. Jin dan manusia, dalam beberapa ayat al Qur’an dijelaskan sebagai produk ciptaan (dari api yang sangat panas dan dari tanah kering). Keduanya pada beberapa ayat disebut “orang”, yaitu yang mengindikasikan sebutan kepada mahluk. Jika dipisahkan, maka saya menangkap sebutan orang yang manusia adalah insan atau manusia.<br />
2. Setan dan Iblis diterangkan dalam bahasa ayat lebih saya tangkap sebagai sikap/perilaku. Karena ditegasi dalam Al Qur’an setan bisa dari golongan Jin dan Manusia, maka menisbahkan kata setan hanya untuk mahluk yang disebut jin atau mahluk tidak kasat mata, menurut saya mengurangi kemampuan kita memaknai keseluruhan pemahaman.<br />
3. Iblis disebutkan langsung oleh Allah kepada Jin. Jadi saya menyimpulkan bahwa pengingkaran jin pada perintah Allah, maka Allah menyebutnya sebagai Iblis. Namun, yang dapat saya pahami, sebutan “iblis” juga spesifik pada suatu kondisi, yaitu kondisi ketika Adam dan Iblis sama-sama ada di Surga. Saya belum menemukan kata “iblis” dalam operasional setelah komunikasi Allah dengan Iblis di Surga. (pls koreksi bila salah).<br />
4. Penyebutan sebagai syetan juga perilaku dan jelas perilaku ingkar, dalam banyak ayat saya menangkapnya ditujukan pada perilaku manusia dan jin.</p>
<p>Tepatkah kalau dikatakan moyangnya setan adalah Iblis?. Menurut pemahaman jelas tidak tepat. Setan itu dari golongan manusia dan golongan jin. Kalau disebut moyangnya setan adalah Iblis, maka penyifatan (sikap atau perilaku) menjadi wujud. Lebih tepat, moyangnya jin adalah jin yang ingkar (iblis). Namun, jelas pula dalam al qur’an ada jin yang menyeru kebaikan (beriman). Ini bisa dipahami bahwa Iblis ada yang menjadi setan dan ada yang menjadi orang beriman. Sebutan “orang” ditujukan kepada jin dan manusia.</p>
<p>Dengan pola pikir ini, saya “merasa” bahwa Surat An Nas yang diakhir kalimat menegasi … dari golongan jin dan manusia menjadi lebih mudah terpahami.</p>
<p>Sedangkan kalau kita mendengar kata godaan setan. Itu lebih dipahami sebagai : godaan dari manusia ingkar dan jin yang ingkar.</p>
<p>Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)</p>
<p>Atas dasar pola pikir inilah, maka saya pilih judul di atas dengan kata Jin dan Manusia, Setan dan Iblis. Perbedaan dan pemahaman ini tentunya diharapkan karenanya, bila mengkaji lebih tepat sasaran.</p>
<p>Tepatkah kalau ada pernyataan Siapakah musuh syetan?.  Kalau jawabannya :  Syetan adalah musuh manusia.  Maka jawaban ini, sebenarnya keluar dari definisi bahwa setan itu bisa dari golongan manusia dan jin.  Jadi ayat berikut ini :</p>
<p>Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah : 208 )</p>
<p>semestinya dipahami, syaitan itu musuh nyata bagimu.  Kata “mu” di sini adalah orang-orang beriman.  Bukankah kita wahyu ini untuk orang beriman dan berakal…</p>
<p>Sedangkan tulisan di bawah ini, meski tidak bersetuju dengan judulnya, namun jelas sebuah informasi yang berharga untuk disimak dan dipelajari.</p>
<p>Perbedaan Antara Jin, Setan dan Iblis</p>
<p>Penulis : Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf</p>
<p>Tema Jin, Setan, dan Iblis masih menyisakan kontroversi hingga kini. Namun yang jelas, eksistensi mereka diakui dalam syariat. Sehingga, jika masih ada dari kalangan muslim yang meragukan keberadaan mereka, teramat pantas jika diragukan keimanannya.</p>
<p>Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan risalah yang umum dan menyeluruh. Tidak hanya untuk kalangan Arab saja namun juga untuk selain Arab. Tidak khusus bagi kaumnya saja, namun bagi umat seluruhnya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusnya kepada segenap Ats-Tsaqalain: jin dan manusia.<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيْعًا</p>
<p>“Katakanlah: `Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (Al-A’raf: 158)<br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً</p>
<p>“Adalah para nabi itu diutus kepada kaumnya sedang aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma)<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:</p>
<p>وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِيْنَ. قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوْسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ. يَا قَوْمَنَا أَجِيْبُوا دَاعِيَ اللهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ. وَمَنْ لاَ يُجِبْ دَاعِيَ اللهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي اْلأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُوْنِهِ أَوْلِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ</p>
<p>“Dan ingatlah ketika Kami hadapkan sekumpulan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Qur`an. Maka ketika mereka menghadiri pembacaannya lalu mereka berkata: `Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’. Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: `Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al-Qur`an) yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Wahai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan lepas dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf: 29-32)</p>
<p>Jin Diciptakan Sebelum Manusia<br />
Tak ada satupun dari golongan kaum muslimin yang mengingkari keberadaan jin. Demikian pula mayoritas kaum kuffar meyakini keberadaannya. Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nashrani pun mengakui eksistensinya sebagaimana pengakuan kaum muslimin, meski ada sebagian kecil dari mereka yang mengingkarinya. Sebagaimana ada pula di antara kaum muslimin yang mengingkarinya yakni dari kalangan orang bodoh dan sebagian Mu’tazilah.<br />
Jelasnya, keberadaan jin merupakan hal yang tak dapat disangkal lagi mengingat pemberitaan dari para nabi sudah sangat mutawatir dan diketahui orang banyak. Secara pasti, kaum jin adalah makhluk hidup, berakal dan mereka melakukan segala sesuatu dengan kehendak. Bahkan mereka dibebani perintah dan larangan, hanya saja mereka tidak memiliki sifat dan tabiat seperti yang ada pada manusia atau selainnya. (Idhahu Ad-Dilalah fi ’Umumi Ar-Risalah hal. 1, lihat Majmu’ul Fatawa, 19/9)<br />
Anehnya orang-orang filsafat masih mengingkari keberadaan jin. Dan dalam hal inipun Muhammad Rasyid Ridha telah keliru. Dia mengatakan: “Sesungguhnya jin itu hanyalah ungkapan/ gambaran tentang bakteri-bakteri. Karena ia tidak dapat dilihat kecuali dengan perantara mikroskop.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah minal Jin oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu)<br />
Jin lebih dahulu diciptakan daripada manusia sebagaimana dikabarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:</p>
<p>وَ لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُوْنٍ. وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُوْمِ</p>
<p>“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 26-27)<br />
Karena jin lebih dulu ada, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mendahulukan penyebutannya daripada manusia ketika menjelaskan bahwa mereka diperintah untuk beribadah seperti halnya manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ</p>
<p>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)</p>
<p>Jin, Setan, dan Iblis<br />
Kalimat jin, setan, ataupun juga Iblis seringkali disebutkan dalam Al-Qur`an, bahkan mayoritas kita pun sudah tidak asing lagi mendengarnya. Sehingga eksistensinya sebagai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lagi diragukan, berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah serta ijma’ ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tinggal persoalannya, apakah jin, setan, dan Iblis itu tiga makhluk yang berbeda dengan penciptaan yang berbeda, ataukah mereka itu bermula dari satu asal atau termasuk golongan para malaikat?<br />
Yang pasti, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerangkan asal-muasal penciptaan jin dengan firman-Nya:</p>
<p>وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُوْمِ</p>
<p>“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 27)<br />
Juga firman-Nya:</p>
<p>وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ</p>
<p>“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (Ar-Rahman: 15)<br />
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَتِ الْجَانُّ مِنْ مَّارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ</p>
<p>“Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan kepada kalian.” (HR. Muslim no. 2996 dari ’Aisyah radhiallahu ‘anha)<br />
Adapun Iblis, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentangnya:</p>
<p>وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ</p>
<p>“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin…” (Al-Kahfi: 50)<br />
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Iblis mengkhianati asal penciptaannya, karena dia sesungguhnya diciptakan dari nyala api, sedangkan asal penciptaan malaikat adalah dari cahaya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan di sini bahwa Iblis berasal dari kalangan jin, dalam arti dia diciptakan dari api. Al-Hasan Al-Bashri berkata: ‘Iblis tidak termasuk malaikat sedikitpun. Iblis merupakan asal mula jin, sebagaimana Adam sebagai asal mula manusia’.” (Tafsir Al-Qur`anul ’Azhim, 3/94)<br />
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu mengatakan: “Iblis adalah abul jin (bapak para jin).” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 406 dan 793)<br />
Sedangkan setan, mereka adalah kalangan jin yang durhaka. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullahu pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan menyesatkannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja mayoritas mereka itu bodoh.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)</p>
<p>Siapakah Iblis?1<br />
Terjadi perbedaan pendapat dalam hal asal-usul iblis, apakah berasal dari malaikat atau dari jin.<br />
Pendapat pertama menyatakan bahwa iblis berasal dari jenis jin. Ini adalah pendapat Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu. Beliau menyatakan: “Iblis tidak pernah menjadi golongan malaikat sekejap matapun sama sekali. Dan dia benar-benar asal-usul jin, sebagaimana Adam adalah asal-usul manusia.” (Diriwayatkan Ibnu Jarir dalam tafsir surat Al-Kahfi ayat 50, dan dishahihkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya)<br />
Pendapat ini pula yang tampaknya dikuatkan oleh Ibnu Katsir, Al-Jashshash dalam kitabnya Ahkamul Qur‘an (3/215), dan Asy-Syinqithi dalam kitabnya Adhwa`ul Bayan (4/120). Penjelasan tentang dalil pendapat ini beliau sebutkan dalam kitab tersebut. Secara ringkas, dapat disebutkan sebagai berikut:<br />
1. Kema’shuman malaikat dari perbuatan kufur yang dilakukan iblis, sebagaimana firman Allah:</p>
<p>لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ</p>
<p>“…yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)</p>
<p>لاَ يَسْبِقُوْنَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُوْنَ</p>
<p>“Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan, dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (Al-Anbiya`: 27)<br />
2. Dzahir surat Al-Kahfi ayat 50</p>
<p>وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ</p>
<p>“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, lalu ia mendurhakai perintah Rabbnya.”<br />
Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa iblis dari jin, dan jin bukanlah malaikat. Ulama yang memegang pendapat ini menyatakan: “Ini adalah nash Al-Qur`an yang tegas dalam masalah yang diperselisihkan ini.” Beliau juga menyatakan: “Dan hujjah yang paling kuat dalam masalah ini adalah hujjah mereka yang berpendapat bahwa iblis bukan dari malaikat.”<br />
Adapun pendapat kedua yang menyatakan bahwa iblis dari malaikat, menurut Al-Qurthubi, adalah pendapat jumhur ulama termasuk Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Alasannya adalah firman Allah:</p>
<p>وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ</p>
<p>“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)<br />
Juga ada alasan-alasan lain berupa beberapa riwayat Israiliyat.<br />
Pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama, insya Allah, karena kuatnya dalil mereka dari ayat-ayat yang jelas.<br />
Adapun alasan pendapat kedua (yakni surat Al-Baqarah ayat 34), sebenarnya ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa iblis dari malaikat. Karena susunan kalimat tersebut adalah susunan istitsna` munqathi’ (yaitu yang dikecualikan tidaklah termasuk jenis yang disebutkan).<br />
Adapun cerita-cerita asal-usul iblis, itu adalah cerita Israiliyat. Ibnu Katsir menyatakan: “Dan dalam masalah ini (asal-usul iblis), banyak yang diriwayatkan dari ulama salaf. Namun mayoritasnya adalah Israiliyat (cerita-cerita dari Bani Israil) yang (sesungguhnya) dinukilkan untuk dikaji –wallahu a’lam–, Allah lebih tahu tentang keadaan mayoritas cerita itu. Dan di antaranya ada yang dipastikan dusta, karena menyelisihi kebenaran yang ada di tangan kita. Dan apa yang ada di dalam Al-Qur`an sudah memadai dari yang selainnya dari berita-berita itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/94)<br />
Asy-Syinqithi menyatakan: “Apa yang disebutkan para ahli tafsir dari sekelompok ulama salaf, seperti Ibnu ‘Abbas dan selainnya, bahwa dahulu iblis termasuk pembesar malaikat, penjaga surga, mengurusi urusan dunia, dan namanya adalah ‘Azazil, ini semua adalah cerita Israiliyat yang tidak bisa dijadikan landasan.” (Adhwa`ul Bayan, 4/120-121)</p>
<p>Siapakah Setan?2<br />
Setan atau Syaithan (شَيْطَانٌ) dalam bahasa Arab diambil dari kata (شَطَنَ) yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa itu dari kata (شَاطَ) yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata Syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Al-Misbahul Munir, hal. 313).<br />
Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.<br />
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا</p>
<p>“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)<br />
(Dalam ayat ini) Allah menjadikan setan dari jenis manusia, seperti halnya setan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut setan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir, 1/49)<br />
Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127). Lihat juga Al-Qamus Al-Muhith (hal. 1071).<br />
Yang mendukung pendapat ini adalah surat Al-An’am ayat 112:</p>
<p>وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا</p>
<p>“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (Al-An’am: 112)<br />
Al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum.” Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata: “Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada setan?” Beliau menjawab: “Ya.”<br />
Ibnu Katsir menyatakan setelah menyebutkan beberapa sanad hadits ini: “Inilah jalan-jalan hadits ini. Dan semua jalan-jalan hadits tersebut menunjukkan kuatnya hadits itu dan keshahihannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/172)<br />
Yang mendukung pendapat ini juga hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Muslim:</p>
<p>الْكَلْبُ اْلأَسْوَدُ شَيْطَانٌ</p>
<p>“Anjing hitam adalah setan.”<br />
Ibnu Katsir menyatakan: “Maknanya –wallahu a’lam– yaitu setan dari jenis anjing.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)<br />
Ini adalah pendapat Qatadah, Mujahid dan yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, Asy-Syaukani dan Asy-Syinqithi.<br />
Dalam masalah ini ada tafsir lain terhadap ayat itu, tapi itu adalah pendapat yang lemah. (ed)<br />
Ketika membicarakan tentang setan dan tekadnya dalam menyesatkan manusia, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ. قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ. قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَ. ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِيْنَ</p>
<p>“Iblis menjawab: ‘Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan’, Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukumiku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 14-17)<br />
Setan adalah turunan Iblis, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>أَفَتَتَّخِذُوْنَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلاً</p>
<p>“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” (Al-Kahfi: 50)<br />
Turunan-turunan Iblis yang dimaksud dalam ayat ini adalah setan-setan. (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 453)</p>
<p>Penggambaran Tentang Jin<br />
Al-jinnu berasal dari kata janna syai`un yajunnuhu yang bermakna satarahu (menutupi sesuatu). Maka segala sesuatu yang tertutup berarti tersembunyi. Jadi, jin itu disebut dengan jin karena keadaannya yang tersembunyi.<br />
Jin memiliki roh dan jasad. Dalam hal ini, Syaikhuna Muqbil bin Hadi rahimahullahu mengatakan: “Jin memiliki roh dan jasad. Hanya saja mereka dapat berubah-ubah bentuk dan menyerupai sosok tertentu, serta mereka bisa masuk dari tempat manapun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kita agar menutup pintu-pintu sembari beliau mengatakan: ‘Sesungguhnya setan tidak dapat membuka yang tertutup’. Beliau memerintahkan agar kita menutup bejana-bejana dan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya. Demikian pula bila seseorang masuk ke rumahnya kemudian membaca bismillah, maka setan mengatakan: ‘Tidak ada kesempatan menginap’. Jika seseorang makan dan mengucapkan bismillah, maka setan berkata: ‘Tidak ada kesempatan menginap dan bersantap malam’.” (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)<br />
Jin bisa berujud seperti manusia dan binatang. Dapat berupa ular dan kalajengking, juga dalam wujud unta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai dan juga burung. Serta bisa berujud Bani Adam seperti waktu setan mendatangi kaum musyrikin dalam bentuk Suraqah bin Malik kala mereka hendak pergi menuju Badr. Mereka dapat berubah-ubah dalam bentuk yang banyak, seperti anjing hitam atau juga kucing hitam. Karena warna hitam itu lebih signifikan bagi kekuatan setan dan mempunyai kekuatan panas. (Idhahu Ad-Dilalah, hal. 19 dan 23)<br />
Kaum jin memiliki tempat tinggal yang berbeda-beda. Jin yang shalih bertempat tinggal di masjid dan tempat-tempat yang baik. Sedangkan jin yang jahat dan merusak, mereka tinggal di kamar mandi dan tempat-tempat yang kotor. (Nashihatii li Ahlis Sunnah Minal Jin)<br />
Tulang dan kotoran hewan adalah makanan jin. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:</p>
<p>ابْغِنِي أَحْجَارًا أَسْتَنْفِضْ بِهَا وَلاَ تَأْتِنِي بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ. فَأَتَيْتُهُ بِأَحْجَارٍ أَحْمَلُهَا فِي طَرَفِ ثَوْبِي حَتَّى وَضَعْتُهَا إِلَى جَنْبِهِ ثُمَّ انْصَرَفْتُ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مَشَيْتُ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْعَظْمِ وَالرَّوْثَةِ؟ قَالَ: هُمَا مِنْ طَعَامِ الْجِنِّ وَإِنَّهُ أَتَانِي وَفْدُ جِنِّ نَصِيْبِيْنَ وَنِعْمَ الْجِنُّ فَسَأَلُوْنِي الزَّادَ فَدَعَوْتُ اللهَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَمُرُّوا بِعَظْمٍ وَلاَ بِرَوْثَةٍ إِلاَّ وَجَدُوا عَلَيْهَا طَعَامًا</p>
<p>“Carikan beberapa buah batu untuk kugunakan bersuci dan janganlah engkau carikan tulang dan kotoran hewan.” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku pun membawakan untuknya beberapa buah batu dan kusimpan di sampingnya. Lalu aku menjauh hingga beliau menyelesaikan hajatnya.”<br />
Aku bertanya: “Ada apa dengan tulang dan kotoran hewan?”<br />
Beliau menjawab: “Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah didatangi rombongan utusan jin dari Nashibin, dan mereka adalah sebaik-baik jin. Mereka meminta bekal kepadaku. Maka aku berdoa kepada Allah untuk mereka agar tidaklah mereka melewati tulang dan kotoran melainkan mereka mendapatkan makanan.” (HR. Al-Bukhari no. 3860 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dalam riwayat Muslim disebutkan: “Semua tulang yang disebutkan nama Allah padanya”, ed)</p>
<p>Gambaran Tentang Iblis dan Setan<br />
Iblis adalah wazan dari fi’il, diambil dari asal kata al-iblaas yang bermakna at-tai`as (putus asa) dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.<br />
Mereka adalah musuh nomer wahid bagi manusia, musuh bagi Adam dan keturunannya. Dengan kesombongan dan analoginya yang rusak serta kedustaannya, mereka berani menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala saat mereka enggan untuk sujud kepada Adam.<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ</p>
<p>“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al-Baqarah: 34)<br />
Malah dengan analoginya yang menyesatkan, Iblis menjawab:</p>
<p>قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ</p>
<p>“Aku lebih baik darinya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Al-A’raf: 12)<br />
Analogi atau qiyas Iblis ini adalah qiyas yang paling rusak. Qiyas ini adalah qiyas batil karena bertentangan dengan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyuruhnya untuk sujud. Sedangkan qiyas jika berlawanan dengan nash, maka ia menjadi batil karena maksud dari qiyas itu adalah menetapkan hukum yang tidak ada padanya nash, mendekatkan sejumlah perkara kepada yang ada nashnya, sehingga keberadaannya menjadi pengikut bagi nash.<br />
Bila qiyas itu berlawanan dengan nash dan tetap digunakan/ diakui, maka konsekuensinya akan menggugurkan nash. Dan inilah qiyas yang paling jelek!<br />
Sumpah mereka untuk menggoda Bani Adam terus berlangsung sampai hari kiamat setelah mereka berhasil menggoda Abul Basyar (bapak manusia) Adam dan vonis sesat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dengan firman-Nya:</p>
<p>يَابَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِيْنَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ</p>
<p>“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27)<br />
Karena setan sebagai musuh kita, maka kita diperintahkan untuk menjadi musuh setan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ</p>
<p>“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p>أَفَتَتَّخِذُوْنَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلاً</p>
<p>“Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” (Al-Kahfi: 50)<br />
Semoga kita semua terlindung dari godaan-godaannya. Wal ’ilmu ’indallah.</p>
<p><em>By :  http://agorsiloku.wordpress.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.peureulak.com/jin-dan-manusia-setan-dan-iblis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
